Tuesday, February 28, 2012
Tuesday, February 14, 2012
TOPONIM & TOPONIMI
Toponim atau toponym dalam Bahasa Inggris secara harfiah berarti nama tempat di muka bumi (topos adalah tempat atau permukaan dan nym dari onyma berarti nama) dan dalam Bahasa Inggris kadang-kadang juga disebut geographical names (nama geografis) atau place names. Dalam Bahasa Indonesia kita pakai istilah nama unsur geografi atau nama geografis atau nama rupabumi. Rupabumi adalah istilah Bahasa Indonesia untuk topografi. Dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah di pasal 7 disebut nama bagian rupabumi (topografi) atau nama unsur rupabumi. Begitu juga dalam Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, memakai istilah nama rupabumi.
Toponimi mempunyai 2 pengertian (Raper, 1996), yaitu:
1. Ilmu yang mempunyai obyek studi tentang toponim pada umumnya dan tentang nama geografis khususnya.
2. Totalitas dari toponim dalam suatu region.
Saturday, January 21, 2012
MENENTUKAN BESARNYA KEMIRINGAN SUMBU MENDATAR DAN SALAH KOLIMASI
Stasiun
|
Target
|
Teropong
|
L1
|
M1
|
Q
|
P
|
B
|
250 15’ 28.39”
|
300 12’ 25”
|
R
|
B
|
750 15’ 28.39”
|
100 13’ 24”
|
|
R
|
LB
|
2550 15’
30.42”
|
100 13’ 26”
|
|
P
|
LB
|
2050 15’
32.24”
|
300 12’ 27”
|
MPrata-rata
= (300 12’ 25” + 300 12’ 27”)/2 = 300 12’ 26”
MRrata-rata
= (100 13’ 24” + 100 13’ 26”)/2 = 100 13’ 25”
LPB = QPB = 250
15’ 28.39”; LRB = QRB = 750
15’ 28.39”;
LRLB = QRLB =
(2550 15’ 30.42” – 180) = 750 15’ 30.42”;
LPLB = QPLB = (2050
15’ 32.24” – 180) = 250 15’ 32.24”
Hitungan
1.
MPrata-rata = 300
12’ 26”; tan MPrata-rata = 0.582; sec MPrata-rata =
1.157
2.
MRrata-rata = 100
13’ 25”; tan MRrata-rata = 0.180; sec MRrata-rata =
1.016
3.
(LPLB – LPB)/2
= (QPLB - QPB)/2 =
250 15’ 32.24” - 250 15’ 28.39” = +1.92”
4.
(LRLB – LRB)/2
= (QRLB - QRB)/2 =
750 15’ 30.42” - 750 15’ 28.39” = +1.02”
5.
Persamaannya menjadi i tan
m + c sec m
0.582i
|
+
|
1.157c
|
=
|
1.92
|
0.180i
|
+
|
1.016c
|
=
|
1.02
|
6.
Dengan menggunakan matriks
determinan dalam perhitugannya diperoleh besaran i = +2.01” dan c = + 0.65”
7.
Cek data hasil pengukuran
kondisi teropong biasa (B) dan luar biasa (LB)
LP = (LPB + LPLB)/2 = (250 15’
28.39” + 250 15’ 32.24”)/2 = 250 15’ 30.32”
LR = (LRB + LRLB)/2 = (750 15’
28.39” + 750 15’ 30.42”)/2 = 750 15’ 29.40”
Adalah harga bacaan yang betul dihitung dari rata-rata
bacaan B dan LB
8.
Harga ukuran yang diberi
koreksi
LP1 = LPB + i tan MPrata-rata
+ c sec MPrata-rata = 250 15’ 28.39” + 1.17” + 0.75” = 250
15’ 30.31”
LP2 = LPLB - i tan MPrata-rata
- c sec MPrata-rata = 250 15’ 32.24” - 1.17” - 0.75” = 250
15’ 30.32”
LR1 = LRB + i tan MRrata-rata
+ c sec MRrata-rata = 750 15’ 28.39” + 0.36” + 0.66” = 750
15’ 29.41”
LR2 = LRLB - i tan MRrata-rata
- c sec MRrata-rata = 750 15’ 30.42” – 0.36” - 0.66” = 750
15’ 29.40”
Adalah harga bacaan yang betul dihitung dari harga
ukuran yang diberi koreksi pengaruh kesalahan indeks (i) dan kolimasi (c)
9.
Rata-rata perhitungan
LPrata-rata = (LP1 + LP2)/2
= (250 15’ 30.31” + 250 15’ 30.32”)/2 = 250 15’
30.32”
LRrata-rata = (LR1 + LR2)/2
= (750 15’ 29.41” + 750 15’ 29.40”)/2 = 750 15’
29.40”
10.
Hasilnya hasil hitungan
pada point 7 = hasil hitungan pada point 9
PENGAMATAN SALAH INDEKS
1. Kesalahan indek
adalah besarnya sudut penyimpangan yang disebabkan tidak sejajarnya garis
indek bacaan skala tegak (nol skala nonius) dengan garis nivo tegak.
2.
Lakukan
pemasangan alat total station.
3.
Tentukan suatu
titik obyek yang cukup jauh dan stabil, misal: ujung penangkal petir atau ujung
menara.
4.
Dengan tidak
lupa menegakkan gelembung nivo tegak lakukan pengamatan skala tegak pada ke
dudukan teropong biasa (B) dan luar biasa (LB) sebanyak 3x.
5.
Bacaan Skala
Tegak dalam sistem sudut Miring Kesalahan
Indeks: i = (B+LB-180)/2.
6.
Bacaan Skala
Tegak dalam sistem sudut Zenit
Kesalahan Indeks: i = (B+LB-360)/2.
7.
Hitunglah
Koreksi: B’ = B + i dan LB’ = LB + i
Bacaan
|
B+LB-180
|
i
|
B = 25° 58' 41.1"
LB = 154° 00’ 27.9"
|
179° 59' 09"
|
-25.5"
|
Dapat juga dilihat proses hitungannya disini
Saturday, January 14, 2012
PENGAMATAN SALAH KOLIMASI
1.
Dirikan
kaki alat dan lakukan pemasangan alat Total
Station (pengaturan
sementara).
2.
Buatlah
kedudukan teropong mendatar.
3.
Melalui
pengamatan teropong pilih dan tentukan suatu titik.
4. Lakukan
pembidikan jurusan ke target dengan menempatkan titik teropong benang silang terhadap
target untuk teropong biasa (B) dan luar
biasa (LB).
5.
Bacalah skala
mendatar biasa (B) dan luar biasa (LB).
6.
Lakukan
pengamatan sebanyak 5 seri.
7.
Hitungan salah
kolimasi
K = ((LB – B) ± 180)/2
8. Harga rata-rata salah kolimasi Kr = (K1+K2+K3+K4+K5)/5.
9. Koreksi bacaan
LB’=LB+Kr dan B’=B+Kr (koreksi kolimasi diberikan pada bacaan skala mendatar).
Contoh
Bacaan
|
(LB – B)+180
|
K
|
B = 259°
45' 40"
|
-8.2"
|
-4.1"
|
LB = 79°45’31.8"
|
Dapat juga dilihat proses
hitungannya disini
Subscribe to:
Posts (Atom)